| . | |||||||
![]() |
Kabupaten Klaten | ||||||
| . | |||||||
![]() |
|||||||
| . | |||||||
Regional Surakarta
Regional Kedu |
CANDI PRAMBANAN
ROWO JOMBOR PERMAI
Di samping Rawa Jombor sebagai obyek utama, di sini juga terdapat sebuah taman Wisata yang berada di atas bukit dan memiliki luas areal kurang lebih 4 hektar. Taman ini banyak dikunjungi para pelajar setelah usai ujian sekolah baik hanya sekedar untuk melepaskan beban juga untuk menghilangkan kejenuhan setelah beberapa saat bergumul dengan buku. Rowo Jombor merupakan objek wisata yang dikembangkan untuk aktiftas pemancingan dan rekreasi. Namun demikian potensi Jombor juga meliputi kekhasan Warung Apung ditengah Rawa dan perahu tradisional dari getek yang digunakan sebagai sarana transportasi dari darat ke warung apung. Potensi lainnya adalah adanya kedung air yang dihuni oleh bulus putih dan diyakini oleh warga masyarakat dapat digunakan sebagai media untuk mencari kekayaan (Pesugihan). Untuk mendukung potensi objek wisata Jombor di sekitar kawasan Jombor telah berkembang tempat peristirahatan bagi wisatawan yang ingin menginap sekaligus menikmati panorama Rowo Jombor. CANDI SEWU
Candi sewu selesai dibangun kira-kira 1898 Masehi. Candi ini terdiri dari satu candi induk, dikelilingi kurang lebih 250 buah candi perwara yang disusun dalam empat baris. Candi sewu merupakan candi Budha. Candi ini juga dikelilingi pagar tembok dari batu yang melingkari halaman candi dan berbentuk persegi empat. Pada tiap sisi di tengah-tengah terdapat pintu gerbang yang berfungsi sebagai jalan masuk halaman candi. Untuk tiap pintu masuk candi terdapat dua buah patung raksasa yang duduk bersila berjaga dan bersenjata gada. Bila wisatawan memasuki halaman candi dari arah timur, maka akan menyaksikan tengah-tengah candi pusatnya. Candi pusat tersebut, berbentuk persegi empat dengan sudut-sudutnya yang menonjol keluar. Untuk masing-masing sisinya, tampak bentuk candi bujur sangkar yang menjirik keluar dan masing-masing mempunyai kamar/ruang yang bisa dicapai dengan melewati tangga depan. Dengan melalui kamar bagian timur, wisatawan dapat memasuki kamar tengah, kamar yang terbesar. Sedangkan 3 (tiga) kamar lainnya tidak berhubungan dengankamar tengah. Terdapat 4 (empat) kamar memiliki atap yang rendah, atapnya lebih tinggi dan menonjol ke atas di tengah-tengah empat atap lainnya.
Dengan menyusuri gang yang sempit, wisatawan bisa mengelilingi candi dan melihat bagian luar dari candi yang penuh guratan-guratan indah. Setelah melewati pintu gerbang, wisatawan tiba di lorong dalam dari kamar depan. Pada semua kamar, baik kamar depan maupunkamar tengah, tidak terdapat lagi patung-patung. Setelah melihat-lihat bangunan candi, wisatawan dapat menyaksikan juga keadaan alam di sekitar candi. Jika pada cuaca baik dan wisatawan duduk di tengah candi di bawah pepohonan ketapang yang rindang, wisatawan akan merasakan udara yang nyaman dan sejuk. Bila wisatawan menengok ke arah utara, tampak Gunung Merapi berdiri dengan megahnya. Memandang kearah selatan, terlihat deretan pegunungan sertibu yang merupakan tembok penghalang angin kencang, tanaman padi tumbuh subur terlihat menghijau di tanah yang datar dan subur. CANDI CINTA PLAOSAN Sesungguhnya Propinsi Jawa Tengah merupakan propinsi yang kaya akan obyek wisata, baik obyek wisata alam, obyek wisata hiburan umum maupun obyek wisata peninggalan sejarah dan budaya. Salah satu obyek wisata peninggalan sejarah yaitu Candi Cinta Plaosan yang terletak di wilayah Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, dengan jarak 13 kilometer dari Kota Klaten. Dapat ditempuh dengan bus kota Klaten. Dapat ditempuh dengan bus kota antar kota, angkutan wisata, angkutan pedesaan, dan juga dengan angkutan tradisional seperti andong, becak serta ojek. Candi Plaosan ditemukan pada pertengahan abad ke 19, dibangun oleh Rakai Panangkaran sebagai hadiah untuk Permaisuri yang memeluk Agama Budha. Pada Candi sebelah utara wisatawan akan mendapati tulisa Asthupa Sri Maharaja Rakai Pikatan, dan Anumoda Rakai Gurunwangi Dayli Sidu. Kata-kata dari Rakai Penangkaran ini ditujukan kepada permaisurinya Rakai Pikatan. Kompleks candi yang dibangun kurang lebih 900 tahun silam ini terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu:
MUSEUM GULA JAWA TENGAH Museum Gula Jawa Tengah terletak di lingkungan kompleks Pabrik Gula Gondang Baru Klaten, termasuk dalam wilayah Desa Gondang Baru, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten. Letak museum sangat strategis karena berada persis tepi jalan utama/ jalan raya yang menghubungkan kota Yogyakarta dengan Kota Solo. Pendirian Museum Gula Jawa Tengah dilandasi, pertimbangan bahwa perkembangan industri sebagai data untuk pengembangan lebih lanjut. Gagasan pertama dimulculkan oleh Gubernur Propinsi Jawa Tengah yang kala itu dijabat oleh Bapak Soepardjo Roestam dengan dukungan penuh dari Bapak Ir. Waryatno, direktur utama PTP. XV - XVI (persero) peresmian berdirinya museum dilaksanakan pada tanggal 22 Agustus 1986, bertepatan dengan diadakannya Kongres Internasional Soceity of Sugar Cane Technologist (ISSCT) di Pasuruan Jawa Timur yangd ihadiri para ahli gula seluruh dunia. Museum Gula Jawa Tengan menempati sebuah bangunan lama, yaitu bangunan bekas tempat tinggal yang bergaya arsitektur klasik Eropa. Bangunan museum didirikan di atas areal tanah seluas 1.261,20 meter persegi dengan luas bangunan 240 meter persegi yang terdiri dari ruang pameran tetap, perpustakaan, lavotary, dan musholla, seta dilengkapi dengan ruang auditorium seluas 753 meter persegi. Status penyelenggaraan museum dilaksanakan oleh PTP. XV - XVI (Persero)yang berkedudukan di Surakarta dan dikelola oleh Pabrik Gula Gondang Baru Klaten.
Dilihat dari jenis koleksinya, museum Gula Jawa Tengah termasuk jenis museum khusus dengan bercirikan teknologi. Koleksi-koleksinya terdiri dari peralatan tradisional penanaman tebu bibit tebu, peralatan tradisional pemeliharaan tanaman tebu dan alat-alat, mekanisme atau fabrikasi dari pabrik gula, serta beberapa foto penunjang. Foto-foto penunjang, antara lain: foto pabrik gula lama, foto upacara giling pertama, tiruan visualisasi ruang administrasi lama dan lain-lain.
MAKAM KI AGENG PANDAN ARANG Setelah menyaksikan Panorama Rawa Jombor, beranjak ke arah selatan, wisatawan akan tiba di Desa Bayat, Kecamatan Bayat. Disinilah Ki Ageng Pandan Arang dimakamkan. Makam ini berada di atas sebuah bukit di sebelah kiri jalan yang menghubungkan Bayat - Wedi dan Klaten. Makam ini dikelilingi pagar tembok serta rumah-rumah penduduk yang bertebaran. Menurut ceritera yang dapat dipercaya mengatakan bahwa Ki Ageng Pandan Arang adalah Bupati Semarang yang pertama. Di samping sebagai Bupati, beliau juga adalah murid wali Songo (wali Sembilan), yang sangat taat dan patuh. Melihat ketaatan dan kepatuhan muridnya, maka wali songo memberi tugas kepada Ki Ageng Pandan Arang untuk memberitakan agama Islam di daerah Selatan. Makam ki Ageng Pandan Arang banyak dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah yang ada di Jawa Tengah dan sekitarnya untuk ngalap berkah. Para peziarah umumnya datang dengan berbagai kepentingan dan keperluan, dan biasanya disertai suatu keyakinan. Makam ini paling banyak dikunjungi peziarah pada malam selasa kliwon dan malam jumat kliwon. Kalau melihat Gapuro candi candi bentar kita akan teringat akan arsitektur majapahit.
PEMANCINGAN JANTI
TEMPAT WISATA DELES
Deles indah banyak dikunjungi para pelajar dari berbagai jenjang pendidikan dan disiplin ilmu. Objek wisata Deles merupakan salah satu alternatif yan bisa dikunjungi oleh wisatawan yang menyukai daerah dengan hawa sejuk, pemandangan yang indah dengan dikelilingi oleh tanaman pinus disekitarnya. Objek wisata ini merupakan wisata alam yang dapat membuat orang betah di Klaten. |
||||||
|
| Home | Tentang Kami | Site MAP | Bantuan | Kontak Kami | Buku Tamu | Copyright © 2006 By Bakorlin II |
|||||||