.
Kota Surakarta
.
.
  Selamat Datang di Pusat Informasi Potensi Unggulan Kota Surakarta Propinsi Jawa Tengah

Regional Surakarta

» Kota Surakarta

» Kabupaten Sukoharjo

» Kabupaten Klaten

» Kabupaten Sragen

» Kabupaten Wonogiri

» Kabupaten Boyolali

» Kabupaten Karanganyar

 

Regional Kedu

» Kota Magelang

» Kabupaten Magelang

» Kabupaten Temanggung

» Kabupaten Wonosobo

» Kabupaten Kebumen

» Kabupaten Purworejo

KERATON SURAKARTA HADININGRAT

Pada hari Selasa pahing tanggal 23 sawal, tahun alib 1635, wuku sungsang, windu sancanya, atau tanggal 8 Desember 1711 masehi lahirlah seorang bayi mungil dan manis di keraton Kartasuro, ibukota dan pusat pemerintahan Kerajaan Mataran wkatu itu. Dia adalah R.M. gusti Prabasuyasa putera dariPrabu Amangkurat IV (Amangkurat Jawa) dengan Kanjeng ratu Kencana. dia pulalah yang kemudian dinobatkan sebagai raja di Keraton Kartasuro pada hari Kamis Legi tanggal 16 Besar, Tahun Jimakir 1650, suku wugu, windu adi atau tanggal 15 Agustus 1726 Masehi yang akhirnya dikenal sebagai Kanjeng Susuhunan Pakubuwono II. Ketika Pakubuwono II menjadi raja di Keraton Kartasuro ini, beliau melewati masa-masa pemerintahannya dengan berbagai peristiwa, dan sangat terkenal adalah geger pacinan yang timbul pada tahun 1741 masehi. Pemberontakan yang dilancarkan orang-orang Tionghoa ini ternyata berdampak sangat besar terhadap eksistensi Keraton Kartasuro di masa-masa selanjutnya. Susuhunan Pakubuwono II dengan kejadian itu merasa perlu kalau Keraton Kartasuro dipindahkan saja ketempat yang lebih memungkinkan untuk dijadikan negeri yang barul. Setelah memusyawarahkan hal itu dengan para pejabat kerajaan (abdi dalem) dan kerabat Keraton, ia mengutus beberapa di antaranya untuk mencarikan tempat yang tepat.

Usaha para utusan Kerajaan yang terdiri dari Pangeran Wijil, Tumenggung Tirtawiguna, Kyai Kalipah Buyut, dan Pangulu Pekih Ibrahim akhirnya membuahkan hasil. Mereka sukses mendapatkan dua tempat alternatif yaitu di desa Sala dan bumi Tata Wangi. Begitu Susuhunan Pakubuwono II memperoleh laporan dari keempat utusannya, dengan segera ia memerintahkan kepada Kyai Tohjaya dan Kyai Yasadipura untuk berangkat ke sana memastikan tempat mana yang lebih cocok. Kedua orang itu setelah melihat langsung kondisi tanah dan lingkungan di sekitarnya lebih sepakat kalau tanah di desa Sala Pantas dijadikan negeri yang baru. Raja pun setuju dengan hasil pengamatan langsung dari Kyai Tohjaya dan Kyai Yasadipura. Pekerjaan mendirikan Keraton baru segera dimulai dan dipimpin oleh Adipati Pringgalaya, sedangkan untuk menimbun tanah di desa Sala yang berawa itu dipimpin oleh Kyai Gedhe Sala dengan jumlah tenaga kerja mencapai ribuan orang. tanah Desa Sala sudah menjadi dataran yang luas dan pembangunan istana raja segera dikerjakan. Dalam jangka waktu hanya satu tahun, istana raja di Sala telah selesai tepatnya pada tahun Jawa 1670 atau tahun 1745 Masehi. Selesainya pembangunan istana/Keraton Sala ini ditandai sengkalan "Sirnaning resi rasa tunggal". Sirnaning berarti 0 (nol), resi berarti 7 (tujuh), rasa berarti 6 (enam), tunggal berarti 1 (satu). Mengartikan tahun dalam sengkalan harus disusun terbalik. Maka kalimat berbahasa Jawa tersebut sama dengan angka 1670, tahun berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Pada hari Rabu Pahing tanggal 14 Suro/ Muharam tahun 1670 wuku Landep, windu sancaya atau tanggal 17 Pebruari 1745 secara resmi Susuhunan Pakubuwono II meninggalkan Keraton Kartasuro menuju istana yang baru yaitu Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sejak itu pula pusat pemerintahan kerajaan berpindah ke Solo. Kini, Keraton Surakarta telah berubah fungsi menjadi pusat kebudayaan sesuai tuntutan jaman. Bahkan saat ini Keraton tersebut merupakan salah satu obyek wisata yang sangat menarik minat wisatawan baik wisatawan lokal/nusantara maupun wisatawan mancanegara. Keraton Surakarta Hadiningrat terdiri dari beberapa bagian penting. Apabila kita memasuki kompleks Keraton dari arah utara melalui alun-alun utara, maka kita akan menjumpai:

  • Pintu Gerbang Kori Brojonolo, di sini kita dapat menjumpai beberapa bangsal kecil, seperti bangsal Brojonolo dan bangsal Wisomarto. Kita juga akanmelihat sebuah ruang tempat lonceng serta dua buah gedung membujur utara-selatan, tempat penjagaan prajurit berkuda (Ngebrak).

  • Pintu Gerbang Kori Kamandungan, Bangsal Kamandungan, lukisan lambang Kerajaan Jawa Sri Makuta raja, Baleroto (tempat berhenti kendaraan), sebuah cermin besar, bangunan Jwa Semorokoto dan Narcukunda.

  • Pintu gerbang Kori Srimanganti, meliputi "Pancaosan" panewu (ruang jaga mantri dan bawahannya dari golongan keparak), sebuah cermin besar untuk memeriksa diri sebelum menghadap susuhunan, gung Songgobuwono yang berbentuk segi delapan (hasto wolu). Panggung Songgobuwono, terutama bagian atas yang dikenal untuk tempat bermeditasi, sesaji dan untuk bertemu dengan badan halus (Sukma Kararira).

Apabila kita memasuki pelataran kedhaton melewati Kori Sri Mangati, kita akan menjumpai sebuah "Kedhaton Jawa" lengkap. Berjalan dari timur ke barat pertama-tama kita akan melihat bangunan Jawa berbentuk Limasan Jubang yang disebut maligi, yaitu tempat untuk mengkhitankan putera Susuhunan. Kita juga berturut-turut akan melihat pendopo besar bentuk joglo pengrawit yang disebut Sasonosewoko, bangsal Paningrat, Sasono Ponosedya (ruang duduk Susuhunan saat menyaksikan pertunjukkan wajang kulit dan latihan Bedoyo Srimpi), dan Sasono Hondrowino tempat menerima tamu-tamu penting atau sacara jamuan makan bersama. Selain itu masih ada lagi sebuah serambi yang digunakan sebagai tempat berkumpul/ paseban para Pangeran Putra, Pangeran Sentono dan Riyo Nginggil menantikan Miyos dalam. Di sebelah tiur kedhaton terdapat tiga buah bangunan yaitu bangunan membujur utara selatan berbentuk limasan "kelabang anyander jubangan". Ke dua bangunan lainnya adalah Bangsal Pradonggo (tempat gamelan) dan Bangsal Bujono (tempat menjamu para pendamping tamu agung).

 

kembali keatas

 

PURA MANGKUNEGARAN

Sejarah berdirinya pura Mangkunegaran tidak dapat dipisahkan dari perjuangan R.M. Said atau dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa antara tahun 1740 - 1757. Sebagaimana diketahui, Pangeran Sambernyawa adalah adik dari Susuhunan Pakubuwono III yang melakukan perlawanan terhadap kompeni Belanda. Bahkan di masa perjuangannya ia tidak hanya menghadapi Belandal, melainkan juga ia bertempur melawan kakaknya sendiri Susuhunan Pakubuwono III dan juga Sultan Hamengkubuwono I (Pangeran Mangkubumi). Selama perjuangan yang berlangsung 16 tahun itu. Pangeran Sambernyawa dikenal sangat cerdik, memiliki daya tempur yang tinggi dan strategi yang sangat menyulitkan pihak musuh. Tercatat bahwa pada tahun 1756 ketika terjadi pertempuran di hutan Sitakepyak sebelah selatan kota Rembang, pasukan kompeni Belanda (VOC) yang dipimpin Kapten Van Der Pol dan Kapten Beiman sebanyak 2 Detachement dapat dihancurkan. Kendati ia berjuang dengan jumlahpasukan yang kecil serta peralatan perang sekedarnya, namun berkat kepandaiannya ia membuat Belanda terpaksa mengakui kekalahannya.

 

Ketika terjadi lagi pertempuran di Yogyakarta, tiga bulan sebeluma akhir tahun 1757, Pangeran Sambernyawa bersama pasukannya sempat memporakporandakan Benteng Kompeni Belanda. Peristiwa bobolnya pertahanan Belanda itu memakan Nicolas Hartingh, Residen Belanda untuk Yogyakarta cepat-cepat meminta kepada Susuhunan Pakubuwono III untuk membujuk Pangeran Sambernyawa dengan maksud agar sang Pangeran membantunya dalam menjalankan pemerintahan di Salakarta. Pertemuan antara kedua bersaudara adik dan kakak ini menghasilkan persetujuan di mana Pangeran Sambernyawa sependapat untuk menciptakan suatu awal kehidupan yang penuh kedamaian; suatu akhir perjalanan yang terhormat dalam cita-cita mempersatukan Mataram lagi. Pangeran Sambernyawa besarta pasukannya Mangkuyuda dan membangun istana baru. Seluruh keluarga kembali berkumpul di tempat kediaman baru di Salakarta.

 

Pada hari Sabtu legi tanggal 5 Jumadil awal, tahun Alip WIndu Kuntara, tahun Jawa 1638 atau 17 Maret 1757 Masehi, dilangsungkan pertemuan lagi yang dihadiri Susuhunan Pakubuwono III dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Patih Danurejo yang mewakili Sultan Hamengkubuwono I dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pangeran Sambernyawa yang kemudian bergelar KGPAA Mangkunegoro I. Pertemuan lanjutan itu menghasilkan perjanjian Salatiga yang isinya mngatakan antara lain, bahwa K.G.P.A.A Mangkunegoro I tak beda dengan raja-raja Jawa yang lain, hanya tidak diperkenankan duduk di atas singgasana, mendirikan Balai Winata, memiliki alun-alun beserta sepasang pohon beringin dan menghaisi nyawa. Kepadanya diserahkan juga wilayah yang dikuasainya yang tersebar mulai dari tanah Kaduang, Laroh, Matesih, Wiroko, Hariboyo, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan selatan dari jalan post Kartasuro- Solo, Kerajaan baru tersebut diberi nama Puro Mangkunegaran dengan K.G.P.A.A Mangkunegoro I sebagai Kepala Keluarga sekaligus Pengayom seluruh Kerabat.

 

Seiring dengan perjalanan waktu, Puro mangkunegaran telah berubah fungsi dari pusat pemerintahan Kerajaan menjadi pusat budaya. Kini, Pura Mangkunegaran merupakan salah satu obyek wisata yang menarik di Solo, Jawa Tengah dan adalah istana atau tempat tinggal pengageng pura (K.G.P.A.A Mangkunegoro), Istana mangkunegaran dibangun oleh Mangkunegoro II antara tahun 1804-1866. Arsitektur bangunannya seperti model rumah/bangunan tradisional Jawa. Bangunan istana Mangkunegaran sendiri sesungguhnya terdiri dari dua bagian atau ruang utama, yaitu:

  • Pendopo, pendopo pura Mangkunegaran bergaya arsitektur tradisional joglo dengan 4 buah soko guru (pilar utama) yang biasanya digunakan untuk pentas tari-tarian Jawa. Pada bagian barat pendapa disimpan perangkat gamelan yang diselubungi kain hijau. Gamelan tersebut merupakan hamelan pusaka bernama Kyai Kanyut Mesem yang berumur kira-kira 200 tahun. Selain Kyai Kanyut Mesem, di Pendopo terdapat juga gamelan "Upacara, Munggang, Cerobalen dan Kodok Ngorek", yang sering ditabuh pada upacara-upacara tertentu. Upacara-upacara itu adalah penobatan, perkawinan, khitanan, dan kedatangan tamu-tamu penting.

  • Dalem Agung, tempat ini biasanya digunakan untuk upacara-upacara tradisional. Bentuknya adalah limasan dengan 8 buah saka guru, tidak ditutup plafond, sebagai simbol matahari. Dalem Agung mengoleksi benda-benda purba yang terbuat dari perunggu benda purba yang terbuat dari perunggu dan emas. Di sini pula dipaparkan barang-barang ampilan upacara senjata kuno perlengkapan untuk tari-tarian Bedoyo, Srimpi dan Langendriyan. Luas bangunan Dalem Agung adalah 838,75 m2.dengan tinggi tiang utama 8,50 meter, besar tiang utama 0,50 meter x 0,50 meter, tinggi tiang penyangga 5 meter, besar tiang penyangga 0,25 meter x 0,25 meter dan tinggi tiang besi 3,20 Meter. Dalem Agung hanya dapat digunakan untuk upacara tradisional keluarga raja. Istana Mangkunegaran mulai dibuka untuk umum sebagai obyek wisata sejak tahun 1968. Bagi para wisatawan terutama wisatawan mancanegara yang ingin menginap di lingkungan istana, sejak tahun 1975 telah dibangun sebuah hotel persisi di bagian barat daya istana. Wisatawan yang menginap di kotel itu (Mangkunegaran Palace Hotel) dapat menyaksikan pentas kesenian di Pendapa yang berlangsung setiap malam.

kembali keatas

 

MUSEUM PERS NASIONAL

Dalam sejarah, nama Solo cukup dikenal sebagai salah satu basis perjuangan pemuda dan seluruh rakyat Indonesia menentang kehadiran kaum Kolonialis di bumi nusantara. Barangkali Solo sebagai pusat dua buah Kerajaan di Jawa yakni Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran lebih memiliki basis masa dibanding daerah-daerah lainnya. Memang kalau dibandingkan dengan Yogyakarta yang juga merupakan pusat Kerajaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Pakualaman, solo masih kalah peran terutama dalam hal perjuangan fisik. Akan tetapi eksistensi dan kehidupan solo tetap tidak dapat dipisahkan dari sejarah. Solo ternyata telah menghasilkan banyak catatan sejarah perjuangan baik perjuangan fisik maupun non fisik. Salah satu peristiwa sejarah yang tidak boleh dilupakan yaitu bahwa Solo adalah Kota Kelahiran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Peristiwa ini dimulai ketika peralihan ibukota R.I dari Jakarta ke Yogyakarta. Sebelum terbentuknya PWI, sebenarnya sudah ada organisasi yang mewadahi para wartawan yaitu Persatuan Djurnalistik Indonesia (PERDI) yang mandeg kegiatannya ketika Jepang masuk Indonesia.

 

Para wartawan seperti Soemanang, Soedarjo Tjokrosisworo, BM. Diah dan rekan-relannya akhirnya mempunyai gagasan baru untuk mendirikan sebuah wadah yang lebih merangkul semua wartawan di Indonesia. Mereka lalu mengadakan Konggres di Solo, tepatnya di gedung Sositet Sasono Suko, Mangkunegaran. Konggres ini berhasil membuahkan keputusan untuk mendirikan PWI dan benar-benar teralisasi pada tanggal 9 Pebruari 1946. Tanggal tersebut hingga kini tetap dipakai sebagai tonggak peringatan kelahiran PWI yang lebih dikenal sebagai Hari Pers Nasional. Sedangkan gedung Sositet Sasono Suko saat ini difungsikan sebagai Monumen Pers Nasional.

 

Monumen Pers nasional terdiri dari tiga unit gedung dengan tambahan lantai atas pada bangunan induk. Sebagai monumen yang sekaligus berfungsi sebagai museum, gedung ini banyak menyimpan dan mengoleksi benda-benda bersejarah peninggalan wartawan pejuang tempo doeloe. Ada mesin ketik kuno, foto tustel kuno, [enerbitan-perbitan kuno, Pemancar Radio saat perang kemerdekaan, koleksi foto, koran, majalah, pengabdian wartawan dan lain-lain. Dewasa ini sesuai dengan fungsinya, monumen Pers Nasional Solo setiap hari selalu menerima kiriman berupa kora Harian, Mingguan, Majalah dari Bulletin dari perbitan surat kabar. Untuk menanganinya, di MonumenPers ini telah ada seksi khusus, yaitu seksi Laboratorium dan Dokumentasi. Disini pula dapat dijumlai ribuan buku yang disimpan sangat rapi di ruang perpustakaan. Pengelolaan Monumen Pers Nasional Solobeserta segala isinya ditangani oleh Yayasan Pengelola Sarana Pers Nasional dengan Depertemen Penerangan R.I. sebagai instansi penanggung jawab.

 

kembali keatas

 

TAMAN HIBURAN RAKYAT SRIWEDARI

Kota Solo menyimpan sejuta sebutan antara lain sebagai pusat budaya Jawa, Kota Batik, Kotoa Bengawan, dan lebih mesra lagi Solo disebut kota yang tidak pernah tidur. Solo berada pada poros jalan yang menghubungkan beberapa kota besar di Pulau jawa dan kota-kota lainnya. Dengan posisi yang sangat strategis, maka kota Bengawan gambang di capai dari manapun terutama dengan kota-kota besar, seperti Surabaya, Denpasar (Bali) Semarang, Bandung, Jakarta serta kota pelajar Yogyakarta. Bagi wisatawan kota Solo bukanlah kota yang asing, karena Solo menyimpan sejuta obyek wisata menarik. Salah satunya adalah Taman Hiburan Rakyat Sriwedari, taman ini berada ditengah-tengah Kota Solo, berdampingan dengan Museum Raadya Pustaka yaitu di Jalan Slamet Riyadi, lokasi taman ini mudah dicapai dengan berbagai angkutan modern maupun angkutan tradisional seperti becak, andong dan lain-lainnya.

 

Taman hiburan sriwedari dahulu merupakan taman rekreasi keluarga istana Raja Kesunanan, tetapi sekarang taman ini telah mengalami perubahan yang cukup besar sehingga menjadi lokasi hiburan yang terbuka untuk umum, disesuaikan dengan kemajuan zaman. Di taman hiburan ini telah dibangun gedung bioskop, rumah makan bertarap internasional, arena permainan anak-anak serta toko-toko souvenir. Walaupun telah ditambah dengan fasilitas hiburan modernm namun Sriwedari tak mau meninggalkan sosok tradisionalnya. Di sini masih tampak berdiri dengan megahnya gedung Wayang Sriwedari menantang zaman. DI gedung wayang ini setiap malam diadakan pementasan wayang orang seperti drama; nyanyian dan tari tradisional, yang mengandung ajaran leluhur, terutama tentang mahabarata entah sampai kapan gedung wayang ini bertahan.

 

kembali keatas

 

PASAR TRIWINDU

Jika bepergian atau berwisata ke Solo, alangkah baiknya singgah ke pasar Windu Jenar yang dikenal dengan sebutan Pasar Triwindu. pasar yang berada di depan Pura Mangkunegaran ini menjual banyak macam barang-barang antik dari berbagai jaman dengan harga bersaing. Pasar Triwindu sudah ada sejak tahun 1945. Ketika itu Pasar Triwindu muncul secara alami, di mana orang saling menjual barangnya di pinggir jalan dengan sistem barter (tukar-menukar barang dagangan). Barang yang dijual adalah barang buatan sendiri dan bervariasi, seperti keris, wayang, lentera, hiasan dinding, dan lain-lain. Umumnya barang-barang yang dijual di sana berasal dari Pura Mangkunegaran oleh para abdi dalem. Ketika bala tentara Jepang menguasai Solo dan sekitarnya, barnag-barang yang dijual para abdi dalem tersebut ada yang berantakan dan diambil orang. Karena kesulitan ekonomi, barang-barang yang diambil itu mulai diperjualbelikan kembali oleh penjajah. Mereka mengaku bahwa barang-barang yang dijual adalah milik mereka sendiri. Situasi jual-beli di sana pun makin ramai dan peminat terus bertambah dari hari ke hari. Pihak Mangkunegaran bahkan ikut memasok barang-barang antiknya yang dianggap tidak berharga lagi atau sudah rusak.

 

Melihat kondisi demikian, Pemerintah daerah setempat pada tahun 1945 menjadikan tempat ini menjadi pasar yang lebih resmi. Namun pemerintah membaut ketentuan bahwa barnag yang boleh dijual tidak harus barang antik. Banyak barang-barang non antik pun turut di jual, seperti onderdil sepeda, sepeda motor, mobil dan lain-lain. Kini Pasar Triwindu tidak hanya berfungsi sebagai pasar yang memperjual belikan barang semata. Pasar Triwindu terutama dengan benda-beda antiknya telah berfungsi pula sebagai tempat yang mengundang minat wisatawan. Hampir setiap hari selalu kelihatan para wisatawan yang datang untuk membeli benda-benda antik tersebut terutama wisatawan yang memiliki hobi mengoleksi barang antik. Wisatawan yang datang ke sanapun bukan hanya wisatawan nusantara, melainkan juga wisatawan asing. Mereka yang berwisata ke Pasar Triwindu kebanyakan berasal dari Belanda, Perancis, Jerman, Amerika dan Jepang.

 

Barang-barang yang dijual saat ini di Pasar Triwindu adalah berbagai jenis wayang kulit, keris, topeng, keramik, lampu dokar, gantungan lampu, barang-barang dari kuningan seperti manik-manik, kalung, cincin, peralatan minum serta barang-barang dari perunggu dan lain-lain. Pasar Triwindu juga menampung barang yang dapat saling dipertukarkan. Misalnya wisatawan yang sudah bosan dengan koleksi dari tempat tertentu dapat dibarter dengan barang lain yang lebih disukai.

 

kembali keatas

 

PASAR KLEWER

Berdekatan dengan alun-alun utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat terdapat pusat penjualan tekstil Jawa (solo) yaitu Pasar Klewer. Pasar ini merupakan salah satu pasar tekstil terbesar di Indonesia yang menyajikan berbagai macam motif dan ragam tekstil yang khas baik tradisional (buatan tangan) maupun yang lebih modern (produksi pabrik). Macam-macam tekstil yang diperjualbelikan di Pasar Klewer sangat bervariasi, namun yang paling menarik adalah lurik dan batik bagi masyarakat Jawa tengah bukan hanya berfungsi sebagai bahan untuk pakaian sehari-hari, tetapi juga digunakan untuk keperluan upacara adat. Lurik dan barik sesungguhnya sudah ada sejak jaman Majapahit dan merupakan salah satu jenis citra tradisional Jawa yang sudah sangat mengakar. Lurik dan batik adalah kain tenun hasil karya masyarakat desa pada jaman dahulu yang tidak tenggelam di telan kemajuan teknologi modern. Bahkan di saat sekarang ini makin banyak pabrik ang memproduksinya dengan berbagai motif yang selalu berkembang. Lurik dan batik masih dipercaya memiliki makna-makna simbolik yang tersimpan di dalamnya. Dan masyarakat kota terutama kelas menengah ke atas mulai melihatnya sebagai sesuatu yang eksotis karena terpesona dengan motif-motifnya yang menawan.

 

Kini, Pasar Klewer tidak hanya menjual berbagai macam tekstil melainkan juga produk-produk industri dan kerajinan yang lain, seperti tas, sepatu, ikat pinggang, baju, celana, rok, jaket, topi, dan lain-lain, hingga barang-barang kerajinan dari emas dan perak serta barang-barang kebutuhan rumah tangga. Sebagai shopping center, Pasar Klewer setiap hari dari pagi sampai malam selalu padat pengunjung termasuk turis-turis manca negara.

 

kembali keatas

 
 

| Home | Tentang Kami | Site MAP | Bantuan | Kontak Kami | Buku Tamu |

Copyright © 2006 By Bakorlin II