| . | |||||||
![]() |
Kota Surakarta | ||||||
| . | |||||||
![]() |
|||||||
| . | |||||||
Regional Surakarta
Regional Kedu |
KERATON SURAKARTA HADININGRAT
Usaha para utusan Kerajaan yang terdiri dari Pangeran Wijil, Tumenggung Tirtawiguna, Kyai Kalipah Buyut, dan Pangulu Pekih Ibrahim akhirnya membuahkan hasil. Mereka sukses mendapatkan dua tempat alternatif yaitu di desa Sala dan bumi Tata Wangi. Begitu Susuhunan Pakubuwono II memperoleh laporan dari keempat utusannya, dengan segera ia memerintahkan kepada Kyai Tohjaya dan Kyai Yasadipura untuk berangkat ke sana memastikan tempat mana yang lebih cocok. Kedua orang itu setelah melihat langsung kondisi tanah dan lingkungan di sekitarnya lebih sepakat kalau tanah di desa Sala Pantas dijadikan negeri yang baru. Raja pun setuju dengan hasil pengamatan langsung dari Kyai Tohjaya dan Kyai Yasadipura. Pekerjaan mendirikan Keraton baru segera dimulai dan dipimpin oleh Adipati Pringgalaya, sedangkan untuk menimbun tanah di desa Sala yang berawa itu dipimpin oleh Kyai Gedhe Sala dengan jumlah tenaga kerja mencapai ribuan orang. tanah Desa Sala sudah menjadi dataran yang luas dan pembangunan istana raja segera dikerjakan. Dalam jangka waktu hanya satu tahun, istana raja di Sala telah selesai tepatnya pada tahun Jawa 1670 atau tahun 1745 Masehi. Selesainya pembangunan istana/Keraton Sala ini ditandai sengkalan "Sirnaning resi rasa tunggal". Sirnaning berarti 0 (nol), resi berarti 7 (tujuh), rasa berarti 6 (enam), tunggal berarti 1 (satu). Mengartikan tahun dalam sengkalan harus disusun terbalik. Maka kalimat berbahasa Jawa tersebut sama dengan angka 1670, tahun berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Pada hari Rabu Pahing tanggal 14 Suro/ Muharam tahun 1670 wuku Landep, windu sancaya atau tanggal 17 Pebruari 1745 secara resmi Susuhunan Pakubuwono II meninggalkan Keraton Kartasuro menuju istana yang baru yaitu Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sejak itu pula pusat pemerintahan kerajaan berpindah ke Solo. Kini, Keraton Surakarta telah berubah fungsi menjadi pusat kebudayaan sesuai tuntutan jaman. Bahkan saat ini Keraton tersebut merupakan salah satu obyek wisata yang sangat menarik minat wisatawan baik wisatawan lokal/nusantara maupun wisatawan mancanegara. Keraton Surakarta Hadiningrat terdiri dari beberapa bagian penting. Apabila kita memasuki kompleks Keraton dari arah utara melalui alun-alun utara, maka kita akan menjumpai:
Apabila kita memasuki pelataran kedhaton melewati Kori Sri Mangati, kita akan menjumpai sebuah "Kedhaton Jawa" lengkap. Berjalan dari timur ke barat pertama-tama kita akan melihat bangunan Jawa berbentuk Limasan Jubang yang disebut maligi, yaitu tempat untuk mengkhitankan putera Susuhunan. Kita juga berturut-turut akan melihat pendopo besar bentuk joglo pengrawit yang disebut Sasonosewoko, bangsal Paningrat, Sasono Ponosedya (ruang duduk Susuhunan saat menyaksikan pertunjukkan wajang kulit dan latihan Bedoyo Srimpi), dan Sasono Hondrowino tempat menerima tamu-tamu penting atau sacara jamuan makan bersama. Selain itu masih ada lagi sebuah serambi yang digunakan sebagai tempat berkumpul/ paseban para Pangeran Putra, Pangeran Sentono dan Riyo Nginggil menantikan Miyos dalam. Di sebelah tiur kedhaton terdapat tiga buah bangunan yaitu bangunan membujur utara selatan berbentuk limasan "kelabang anyander jubangan". Ke dua bangunan lainnya adalah Bangsal Pradonggo (tempat gamelan) dan Bangsal Bujono (tempat menjamu para pendamping tamu agung).
PURA MANGKUNEGARAN
Ketika terjadi lagi pertempuran di Yogyakarta, tiga bulan sebeluma akhir tahun 1757, Pangeran Sambernyawa bersama pasukannya sempat memporakporandakan Benteng Kompeni Belanda. Peristiwa bobolnya pertahanan Belanda itu memakan Nicolas Hartingh, Residen Belanda untuk Yogyakarta cepat-cepat meminta kepada Susuhunan Pakubuwono III untuk membujuk Pangeran Sambernyawa dengan maksud agar sang Pangeran membantunya dalam menjalankan pemerintahan di Salakarta. Pertemuan antara kedua bersaudara adik dan kakak ini menghasilkan persetujuan di mana Pangeran Sambernyawa sependapat untuk menciptakan suatu awal kehidupan yang penuh kedamaian; suatu akhir perjalanan yang terhormat dalam cita-cita mempersatukan Mataram lagi. Pangeran Sambernyawa besarta pasukannya Mangkuyuda dan membangun istana baru. Seluruh keluarga kembali berkumpul di tempat kediaman baru di Salakarta.
Pada hari Sabtu legi tanggal 5 Jumadil awal, tahun Alip WIndu Kuntara, tahun Jawa 1638 atau 17 Maret 1757 Masehi, dilangsungkan pertemuan lagi yang dihadiri Susuhunan Pakubuwono III dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Patih Danurejo yang mewakili Sultan Hamengkubuwono I dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pangeran Sambernyawa yang kemudian bergelar KGPAA Mangkunegoro I. Pertemuan lanjutan itu menghasilkan perjanjian Salatiga yang isinya mngatakan antara lain, bahwa K.G.P.A.A Mangkunegoro I tak beda dengan raja-raja Jawa yang lain, hanya tidak diperkenankan duduk di atas singgasana, mendirikan Balai Winata, memiliki alun-alun beserta sepasang pohon beringin dan menghaisi nyawa. Kepadanya diserahkan juga wilayah yang dikuasainya yang tersebar mulai dari tanah Kaduang, Laroh, Matesih, Wiroko, Hariboyo, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan selatan dari jalan post Kartasuro- Solo, Kerajaan baru tersebut diberi nama Puro Mangkunegaran dengan K.G.P.A.A Mangkunegoro I sebagai Kepala Keluarga sekaligus Pengayom seluruh Kerabat.
Seiring dengan perjalanan waktu, Puro mangkunegaran telah berubah fungsi dari pusat pemerintahan Kerajaan menjadi pusat budaya. Kini, Pura Mangkunegaran merupakan salah satu obyek wisata yang menarik di Solo, Jawa Tengah dan adalah istana atau tempat tinggal pengageng pura (K.G.P.A.A Mangkunegoro), Istana mangkunegaran dibangun oleh Mangkunegoro II antara tahun 1804-1866. Arsitektur bangunannya seperti model rumah/bangunan tradisional Jawa. Bangunan istana Mangkunegaran sendiri sesungguhnya terdiri dari dua bagian atau ruang utama, yaitu:
MUSEUM PERS NASIONAL Dalam sejarah, nama Solo cukup dikenal sebagai salah satu basis perjuangan pemuda dan seluruh rakyat Indonesia menentang kehadiran kaum Kolonialis di bumi nusantara. Barangkali Solo sebagai pusat dua buah Kerajaan di Jawa yakni Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura Mangkunegaran lebih memiliki basis masa dibanding daerah-daerah lainnya. Memang kalau dibandingkan dengan Yogyakarta yang juga merupakan pusat Kerajaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Pura Pakualaman, solo masih kalah peran terutama dalam hal perjuangan fisik. Akan tetapi eksistensi dan kehidupan solo tetap tidak dapat dipisahkan dari sejarah. Solo ternyata telah menghasilkan banyak catatan sejarah perjuangan baik perjuangan fisik maupun non fisik. Salah satu peristiwa sejarah yang tidak boleh dilupakan yaitu bahwa Solo adalah Kota Kelahiran Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Peristiwa ini dimulai ketika peralihan ibukota R.I dari Jakarta ke Yogyakarta. Sebelum terbentuknya PWI, sebenarnya sudah ada organisasi yang mewadahi para wartawan yaitu Persatuan Djurnalistik Indonesia (PERDI) yang mandeg kegiatannya ketika Jepang masuk Indonesia.
Para wartawan seperti Soemanang, Soedarjo Tjokrosisworo, BM. Diah dan rekan-relannya akhirnya mempunyai gagasan baru untuk mendirikan sebuah wadah yang lebih merangkul semua wartawan di Indonesia. Mereka lalu mengadakan Konggres di Solo, tepatnya di gedung Sositet Sasono Suko, Mangkunegaran. Konggres ini berhasil membuahkan keputusan untuk mendirikan PWI dan benar-benar teralisasi pada tanggal 9 Pebruari 1946. Tanggal tersebut hingga kini tetap dipakai sebagai tonggak peringatan kelahiran PWI yang lebih dikenal sebagai Hari Pers Nasional. Sedangkan gedung Sositet Sasono Suko saat ini difungsikan sebagai Monumen Pers Nasional.
Monumen Pers nasional terdiri dari tiga unit gedung dengan tambahan lantai atas pada bangunan induk. Sebagai monumen yang sekaligus berfungsi sebagai museum, gedung ini banyak menyimpan dan mengoleksi benda-benda bersejarah peninggalan wartawan pejuang tempo doeloe. Ada mesin ketik kuno, foto tustel kuno, [enerbitan-perbitan kuno, Pemancar Radio saat perang kemerdekaan, koleksi foto, koran, majalah, pengabdian wartawan dan lain-lain. Dewasa ini sesuai dengan fungsinya, monumen Pers Nasional Solo setiap hari selalu menerima kiriman berupa kora Harian, Mingguan, Majalah dari Bulletin dari perbitan surat kabar. Untuk menanganinya, di MonumenPers ini telah ada seksi khusus, yaitu seksi Laboratorium dan Dokumentasi. Disini pula dapat dijumlai ribuan buku yang disimpan sangat rapi di ruang perpustakaan. Pengelolaan Monumen Pers Nasional Solobeserta segala isinya ditangani oleh Yayasan Pengelola Sarana Pers Nasional dengan Depertemen Penerangan R.I. sebagai instansi penanggung jawab.
TAMAN HIBURAN RAKYAT SRIWEDARI Kota Solo menyimpan sejuta sebutan antara lain sebagai pusat budaya Jawa, Kota Batik, Kotoa Bengawan, dan lebih mesra lagi Solo disebut kota yang tidak pernah tidur. Solo berada pada poros jalan yang menghubungkan beberapa kota besar di Pulau jawa dan kota-kota lainnya. Dengan posisi yang sangat strategis, maka kota Bengawan gambang di capai dari manapun terutama dengan kota-kota besar, seperti Surabaya, Denpasar (Bali) Semarang, Bandung, Jakarta serta kota pelajar Yogyakarta. Bagi wisatawan kota Solo bukanlah kota yang asing, karena Solo menyimpan sejuta obyek wisata menarik. Salah satunya adalah Taman Hiburan Rakyat Sriwedari, taman ini berada ditengah-tengah Kota Solo, berdampingan dengan Museum Raadya Pustaka yaitu di Jalan Slamet Riyadi, lokasi taman ini mudah dicapai dengan berbagai angkutan modern maupun angkutan tradisional seperti becak, andong dan lain-lainnya.
Taman hiburan sriwedari dahulu merupakan taman rekreasi keluarga istana Raja Kesunanan, tetapi sekarang taman ini telah mengalami perubahan yang cukup besar sehingga menjadi lokasi hiburan yang terbuka untuk umum, disesuaikan dengan kemajuan zaman. Di taman hiburan ini telah dibangun gedung bioskop, rumah makan bertarap internasional, arena permainan anak-anak serta toko-toko souvenir. Walaupun telah ditambah dengan fasilitas hiburan modernm namun Sriwedari tak mau meninggalkan sosok tradisionalnya. Di sini masih tampak berdiri dengan megahnya gedung Wayang Sriwedari menantang zaman. DI gedung wayang ini setiap malam diadakan pementasan wayang orang seperti drama; nyanyian dan tari tradisional, yang mengandung ajaran leluhur, terutama tentang mahabarata entah sampai kapan gedung wayang ini bertahan.
PASAR TRIWINDU
Melihat kondisi demikian, Pemerintah daerah setempat pada tahun 1945 menjadikan tempat ini menjadi pasar yang lebih resmi. Namun pemerintah membaut ketentuan bahwa barnag yang boleh dijual tidak harus barang antik. Banyak barang-barang non antik pun turut di jual, seperti onderdil sepeda, sepeda motor, mobil dan lain-lain. Kini Pasar Triwindu tidak hanya berfungsi sebagai pasar yang memperjual belikan barang semata. Pasar Triwindu terutama dengan benda-beda antiknya telah berfungsi pula sebagai tempat yang mengundang minat wisatawan. Hampir setiap hari selalu kelihatan para wisatawan yang datang untuk membeli benda-benda antik tersebut terutama wisatawan yang memiliki hobi mengoleksi barang antik. Wisatawan yang datang ke sanapun bukan hanya wisatawan nusantara, melainkan juga wisatawan asing. Mereka yang berwisata ke Pasar Triwindu kebanyakan berasal dari Belanda, Perancis, Jerman, Amerika dan Jepang.
Barang-barang yang dijual saat ini di Pasar Triwindu adalah berbagai jenis wayang kulit, keris, topeng, keramik, lampu dokar, gantungan lampu, barang-barang dari kuningan seperti manik-manik, kalung, cincin, peralatan minum serta barang-barang dari perunggu dan lain-lain. Pasar Triwindu juga menampung barang yang dapat saling dipertukarkan. Misalnya wisatawan yang sudah bosan dengan koleksi dari tempat tertentu dapat dibarter dengan barang lain yang lebih disukai.
PASAR KLEWER
Kini, Pasar Klewer tidak hanya menjual berbagai macam tekstil melainkan juga produk-produk industri dan kerajinan yang lain, seperti tas, sepatu, ikat pinggang, baju, celana, rok, jaket, topi, dan lain-lain, hingga barang-barang kerajinan dari emas dan perak serta barang-barang kebutuhan rumah tangga. Sebagai shopping center, Pasar Klewer setiap hari dari pagi sampai malam selalu padat pengunjung termasuk turis-turis manca negara.
|
||||||
|
| Home | Tentang Kami | Site MAP | Bantuan | Kontak Kami | Buku Tamu | Copyright © 2006 By Bakorlin II |
|||||||